![]() |
| Anak sedang mencari buku bacaan (dok. TBM Lentera) |
Halo Pembaca,
Buku mungkin sudah menjadi barang yang kita temukan dimanapun dalam kehidupan kita. Hampir di setiap aktivitas kita tak mungkin lepas dari buku mulai dari buku resep, majalah dan sejenisnya, buku pelajaran, buku cerita, dan masih banyak lagi. Namun meski begitu, sudahkah barang satu ini menjadi salah satu barang penting setiap harinya? Tak sedikit dari kita yang hanya membawa buku jika itu diperlukan atau hanya digunakan pada momen tertentu, bukan menjadi bagian dari hidup dan aktivitas yang menambah wawasan dan kompetensi kita. Bahkan, buku yang kita bawa atau beli tak jarang hanya digunakan sebagai pelengkap administratif, entah karena suatu kewajiban atau hanya sebagai penutup bagian yang kurang dari suatu pekerjaan.
Begitu pula dengan membaca, aktivitas ini sudah kita lakukan setiap hari namun seringkali bukan buku yang kita baca melainkan pesan-pesan dari keluarga, tetangga, teman ataupun sang kekasih. Terkadang berita-berita yang sedang naik daun lewat di timeline kita, namun acap kali kita lewatkan begitu saja bagian-bagian detailnya, malah kita terlalu terlena pada komentar-komentar yang belum tentu benar bahkan tidak sedikit yang keluar dari konteks berita yang dibahas. Di lain waktu, membaca hanya menjadi sesuatu yang dilakukan untuk menggugurkan kewajiban dalam bekerja, sekolah, tugas, proyek, dsb.
Sehingga muncul satu pertanyaan yang perlu kita renungkan jawabannya sejenak secara seksama "Sudahkah kita berdaulat dengan buku dan merdeka dalam membaca?"
![]() |
| Aktivitas me-resume buku bacaan (dok. Ainul Yaqin) |
Bicara soal membaca, untungnya tingkat kegemaran membaca di Indonesia dapat dikatakan bagus. 72,4% pada tahun 2024 lalu menurut BPS. Pun begitu, angka dari survey tidak bisa kita percayai begitu saja. Tidak banyak dari kita ataupun anak-anak kita yang mempunyai kegemaran pergi ke perpustakaan untuk sekedar mencari dan membaca buku cerita yang mereka suka, bahkan untuk membaca buku pelajaran yang mereka dapat disekolah saja tak jarang masih perlu usaha keras untuk memaksa. Di lain sisi, jumlah buku yang dibaca rata-rata orang Indonesia hanya ada pada kisaran 5,9 buku per tahun. Angka ini tentu jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Australia yang mencapai 10 buku per orang per tahun, bahkan India bisa mencapai 16 buku/tahun. Jumlah buku yang kita baca mungkin terlihat tidak jauh perbedaannya dalam angka, namun poinnya bukan melulu persoalan jumlah buku tetapi tentang jenis buku yang dibaca.
Ngomong-ngomong tentang jenis buku, tentu di pasaran telah banyak beredar buku dengan berbagai genre seperti novel, filsafat, sains, komik, agama, dan lain sebagainya. Serta tersedia sesuai dengan usia pembaca mulai dari anak-anak hingga dewasa. Tetapi berapa banyak orang/keluarga yang menghabiskan waktu mereka berjalan-jalan ke toko buku untuk membeli buku? Apalagi dengan tidak terjangkaunya lokasi toko buku yang seringkali hanya berada di pusat kota? Berapa banyak orang/keluarga yang merasa bahwa harga buku sangatlah mahal tetapi masih bisa menghabiskan uangnya untuk hal-hal yang tidak begitu penting tiap bulannya?
Jika demikian masalahnya, tentu kehadiran perpustakaan desa dan perpustakaan komunitas hingga taman baca seperti TBM Lentera yang dekat dengan masyarakat menjadi sangatlah vital. Bantuan atau hibah buku bacaan yang diberikan oleh Perpustakaan negara atau program-program CSR maupun donasi menjadi bahan bakar utama dalam penyediaan jenis buku yang berkualitas sehingga masyarakat mendapatkan bacaan yang bagus, sesuai dengan usia, dan berpihak pada minat dan bakat setiap orang. Bahkan di beberapa perpustakaan komunitas termasuk TBM Lentera juga menyelenggarakan program-program edukatif khusus yang sumber dananya berasal dari banyak pihak yang dihimpun secara sukarela dan kolektif. Sayangnya, tren positif tersebut terancam berakhir dengan dipangkasnya anggaran Perpustakaan Nasional RI dalam kurun waktu 2 tahun terakhir. Berdasarkan keterangan dari Perpusnas efisiensi anggaran memaksa program prioritas seperti bantuan buku, penguatan perpustakaan komunitas, sampai pembinaan pustakawan menjadi tersendat. Terkadang pemangkasan juga berasal dari masyarakat itu sendiri yang dapat dilihat dari tingkat kepedulian mereka terhadap keberlangsungan perpustakaan komunitas yang sangat minim.
![]() |
| Program Setibaku di TBM Lentera (dok. Ainul Yaqin) |
Lalu bagaimana agar dapat merdeka dalam membaca serta berdaulat dengan buku?
Grassroot movement atau gerakan akar rumput mungkin dapat menjadi basis terkuat yang kita miliki sekarang sebagai masyarakat. Gerakan ini dapat didefinisikan sebagai inisiatif yang dipimpin secara lokal yang melibatkan masyarakat dalam mengorganisasi berbagai upaya untuk mengatasi persoalan sistemik yang berdampak pada komunitas setempat. Upaya-upaya seperti memberi berbagai dukungan kepada perpustakaan setempat bisa berdampak besar setidaknya bagi kelangsungan hidup mereka ditengah masyarakat. Dukungan yang baik dan terus menurus dapat menjadi pemicu bagi perpustakaan komunitas dan taman baca untuk menyediakan kegiatan edukatif yang berkelanjutan hingga menyuplai buku bacaan yang berkualitas secara konsisten bagi masyarakat. Mendorong kehadiran buku dan aktivitas membaca setidaknya 30 menit setiap hari dengan pendampingan orang dewasa juga dapat meningkatkan berbagai aspek seperti tingkat kegemaran membaca, dan kemampuan dalam memahami apa yang dibaca. Begitu juga dengan aktivitas me-resume bacaan atau menyimpulkan serta me-recall apa yang dibaca bisa meningkatkan pemahaman bacaan dan tingkat literasi masyarakat.
Gerakan-gerakan yang dimulai dari tengah masyarakat seperti yang disebutkan diatas mungkin terlihat sulit diawal. Diperlukan adanya penyamaan persepsi antara satu masyarakat dengan masyarakat lain dalam komunitas agar dampak yang ditimbulkan dapat dirasakan secara signifikan. Namun perlahan, Grassroot Movement tersebut lah yang secara langsung dapat dirasakan oleh komunitas setempat tanpa perlu melalui birokrasi yang panjang dan melelahkan. Sehingga timbul rasa memiliki diantara seluruh elemen masyarakat atas komunitas dan visi yang dibentuk yang pada akhirnya mewujudkan merdeka dalam membaca dan berdaulat dengan buku yang abadi dan berkelanjutan.
(Ahmad Maulanal Fahmi)
Daftar Pustaka


.jpg)
.jpg)
Seneng rasanya kalo deket rumah ada perpustakaan komunitas seperti TBM Lentera ☺️
BalasHapus