Belajar di malam hari seolah sudah menjadi "DNA" bagi generasi saya, setidaknya dalam rentang tahun 2006 hingga 2018. Kala itu, membuka buku selepas Magrib hingga Isya adalah rutinitas sakral. Kami meninjau materi esok hari sekaligus menyiapkan jadwal pelajaran agar tidak ada yang tertinggal. Meski terkadang dimulai dari paksaan orang tua, kebiasaan ini terbukti memberikan dampak signifikan, terutama saat menghadapi ujian.
![]() |
Foto oleh Maulanal Mip di Unsplash |
Kerap kali di kelas, saya menemukan siswa tidak membawa buku teks. Dalam satu kasus, saat saya memberikan tugas, hampir separuh dari 30 siswa mengumpulkan pekerjaan di sobekan kertas karena tidak membawa buku tulis yang sesuai. Ini memicu pertanyaan besar: apakah kedisiplinan sesederhana menata buku di malam hari sudah punah?
Membuka buku atau LKS sebelum tidur mungkin terlihat sepele, namun itu adalah bentuk persiapan mental. Kebiasaan tersebut membangun memori jangka panjang sehingga kami tidak perlu belajar semalam suntuk saat ujian. Sayangnya, pelajar masa kini cenderung pasif dan bergantung pada pengingat dari guru atau teman. Ironisnya, meski sudah diingatkan, tetap saja ada yang lupa atau tidak mengerjakan tugas.
Hal ini merefleksikan penurunan daya ingat pada hal-hal substansial. Fokus mereka mudah teralihkan oleh hal-hal superfisial yang viral di media sosial. Mereka lebih cepat menghafal meme daripada konsep pelajaran.
Oleh karena itu, gerakan belajar rutin setiap malam perlu digalakkan kembali, mulai dari tingkat SD hingga SMA. Peran orang tua sangat krusial sebagai pengawas di rumah. Efeknya mungkin tidak terlihat dalam sebulan, namun dalam jangka panjang, kebiasaan ini akan meningkatkan capaian kompetensi dan kemampuan kognitif siswa secara signifikan.


Betul
BalasHapus